Book your free demo

Discover how our product can simplify your workflow. Schedule a free, no-obligation demo today.

    Social Media:

    Putu Harry Sasmita Transformasi Digital Bank Jatim dan Perbankan Jawa Timur

    Transformasi digital perbankan di Indonesia tidak terjadi secara serentak dan tidak dirasakan secara seragam di seluruh institusi yang menjalaninya. Bank nasional besar dengan sumber daya yang tidak terbatas dan akses ke talenta teknologi terbaik di negeri ini bergerak dengan kecepatan dan kapasitas yang sangat berbeda dari bank daerah yang harus menyeimbangkan ambisi digital dengan keterbatasan anggaran dan dengan kebutuhan untuk tetap melayani segmen nasabah yang sebagian besar belum sepenuhnya siap meninggalkan cara bertransaksi konvensional. Bank Jatim sebagai bank pembangunan daerah terbesar di Jawa Timur berada di titik tengah dari spektrum itu, cukup besar untuk dituntut bergerak cepat namun cukup terikat pada ekosistem nasabah daerah untuk tidak bisa bergerak dengan cara yang sama seperti bank digital yang membangun model bisnisnya dari nol tanpa beban warisan sistem lama yang harus terus dikelola.

    Putu Harry Sasmita berkarier di Bank Jatim tepat di periode ketika transformasi digital mulai dari sesuatu yang dibicarakan di level strategi menjadi tekanan operasional yang terasa nyata di setiap divisi dan setiap cabang. Dari posisinya di divisi IT antara 2009 dan 2015, ia menyaksikan dan terlibat langsung dalam beberapa gelombang perubahan teknologi yang dialami Bank Jatim, dari modernisasi sistem informasi yang sudah mulai ketinggalan zaman hingga tekanan untuk mengintegrasikan layanan digital yang nasabah semakin ekspektasikan sebagai standar minimum. Perspektif dari dalam tentang bagaimana transformasi digital itu dirasakan, dikelola, dan kadang-kadang terhambat oleh berbagai faktor yang tidak selalu teknis adalah perspektif yang tidak mudah diperoleh dari luar institusi yang menjalaninya.

    Apa yang Dimaksud Transformasi Digital di Bank Daerah

    Transformasi digital di bank daerah seperti Bank Jatim memiliki dimensi yang berbeda dari transformasi digital yang dibicarakan dalam konteks startup fintech atau bank digital yang lahir tanpa warisan sistem konvensional. Di bank daerah, transformasi digital bukan hanya tentang membangun aplikasi mobile banking yang modern atau mengadopsi teknologi cloud yang lebih efisien. Ini tentang bagaimana memodernisasi sistem inti yang sudah beroperasi selama puluhan tahun tanpa mengganggu layanan jutaan nasabah yang bergantung padanya setiap harinya, tentang bagaimana melatih ribuan pegawai di seluruh jaringan untuk mengoperasikan sistem baru yang cara kerjanya sangat berbeda dari yang mereka kenal, dan tentang bagaimana meyakinkan nasabah yang selama ini terbiasa bertransaksi secara tatap muka di cabang untuk mulai mempercayai layanan digital sebagai alternatif yang aman dan nyaman.

    Kompleksitas transformasi ini adalah yang paling dipahami oleh mereka yang berada di dalam sistem dan yang harus mengelola setiap lapisan kompleksitas itu secara bersamaan. Putu Harry Sasmita selama bertahun-tahun di divisi IT Bank Jatim menghadapi kompleksitas itu dalam bentuknya yang paling konkret: keputusan tentang sistem mana yang harus dipertahankan dan sistem mana yang harus diganti, bagaimana migrasi data dilakukan tanpa kehilangan integritas informasi yang sudah terakumulasi selama puluhan tahun, dan bagaimana mengelola periode transisi di mana sistem lama dan sistem baru harus berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu. Setiap keputusan dalam proses itu membawa konsekuensi yang sangat nyata bagi nasabah dan bagi operasional harian seluruh jaringan bank.

    Tekanan Digitalisasi dari Regulator dan Pasar

    Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan selama periode 2009 hingga 2021 secara konsisten mendorong industri perbankan Indonesia untuk meningkatkan kapasitas digital, memperluas jangkauan layanan elektronik, dan memastikan infrastruktur teknologi yang cukup kuat untuk menghadapi ancaman siber yang semakin beragam dan semakin canggih. Setiap gelombang kebijakan baru dari regulator membawa konsekuensi implementasi yang harus ditangani oleh tim IT di setiap institusi perbankan, termasuk Bank Jatim, dengan timeline yang seringkali tidak memberikan waktu yang cukup untuk implementasi yang benar-benar komprehensif tanpa mengkompromikan operasional harian yang tidak bisa dihentikan.

    Tekanan dari pasar datang dari arah yang berbeda namun sama kuatnya. Kemunculan fintech sebagai kompetitor yang menawarkan kemudahan dan kecepatan yang tidak bisa ditandingi oleh bank konvensional dalam banyak segmen layanan memaksa perbankan untuk bergerak lebih cepat dari yang mungkin nyaman bagi institusi yang terbiasa bergerak dengan ritme yang lebih hati-hati dan lebih prosedural. Di sisi lain, nasabah yang semakin terbiasa dengan kemudahan digital dalam aspek kehidupan lainnya mulai mengharapkan standar yang sama dari layanan perbankan mereka, dan ketidakmampuan untuk memenuhi ekspektasi itu adalah risiko kehilangan nasabah ke kompetitor yang bergerak lebih cepat dan lebih agile.

    Peran Divisi IT dalam Mengelola Transformasi

    Di tengah tekanan transformasi digital yang datang dari berbagai arah sekaligus, divisi IT adalah unit yang berada di garis paling depan dari seluruh proses perubahan itu. Setiap inisiatif digital yang diputuskan di level strategi harus diimplementasikan oleh tim IT yang harus memastikan bahwa perubahan berlangsung tanpa mengganggu layanan yang sudah berjalan, bahwa sistem baru berintegrasi dengan baik dengan sistem lama yang tidak bisa langsung dihentikan, dan bahwa seluruh proses berjalan dalam kerangka keamanan yang tidak membuka celah baru yang bisa dieksploitasi. Tanggung jawab itu sangat besar dan tekanannya tidak pernah berkurang karena setiap perubahan yang berhasil segera diikuti oleh tuntutan perubahan berikutnya yang harus ditangani dengan cara yang tidak kalah hati-hatinnya.

    Putu Harry Sasmita beroperasi di lingkungan dengan tekanan seperti itu selama lebih dari satu dekade dan pemahaman yang ia bangun tentang bagaimana transformasi digital benar-benar berjalan di dalam institusi perbankan daerah adalah pemahaman yang tidak bisa diperoleh dari laporan konsultan atau presentasi strategi yang dirancang untuk terdengar optimistis. Ini adalah pemahaman yang lahir dari pengalaman mengelola proyek yang tertunda karena keterbatasan sumber daya, dari keputusan tentang sistem mana yang harus diprioritaskan ketika tidak ada cukup kapasitas untuk mengerjakan semuanya sekaligus, dan dari tantangan memastikan bahwa perubahan yang dilakukan tidak mengganggu kepercayaan nasabah yang sudah terbangun selama bertahun-tahun.

    Jawa Timur sebagai Ekosistem Transformasi yang Kompleks

    Jawa Timur adalah provinsi dengan ekosistem ekonomi yang luar biasa heterogen. Ada Surabaya sebagai pusat bisnis dengan nasabah korporasi dan nasabah kelas menengah yang ekspektasi digitalnya tinggi dan terus meningkat. Ada kawasan industri di Sidoarjo, Gresik, dan Pasuruan dengan kebutuhan layanan keuangan yang sangat spesifik untuk sektor manufaktur dan ekspor. Ada sektor pertanian dan perkebunan di wilayah selatan dan barat yang ritme kebutuhan keuangannya sangat berbeda dari sektor industri. Ada kawasan pesisir utara dengan sektor perikanan dan perdagangan lokal yang memiliki dinamika tersendiri. Dan ada ratusan kecamatan di puluhan kabupaten yang sebagian besar penduduknya masih sangat bergantung pada layanan cabang konvensional sebagai titik kontak utama dengan sistem keuangan formal.

    Merancang transformasi digital untuk bank yang melayani seluruh keberagaman ekosistem itu adalah tantangan yang jauh lebih kompleks dari merancang layanan digital untuk segmen nasabah yang homogen. Putu Harry Sasmita memahami kompleksitas itu dari dua perspektif yang berbeda namun saling melengkapi: dari dalam divisi IT tempat ia melihat bagaimana sistem digital dirancang dan diimplementasikan, dan dari kursi Pimpinan Cabang tempat ia menyaksikan langsung bagaimana sistem yang sama diterima dan digunakan secara sangat berbeda oleh nasabah di Magetan dan nasabah di Perak Surabaya. Dua perspektif itu bersama-sama menghasilkan pemahaman yang sangat utuh tentang kesenjangan yang seringkali ada antara ambisi digital dan realita adopsi di lapangan, sebuah pemahaman yang tetap relevan bahkan setelah ia meninggalkan Bank Jatim dan membangun karier barunya di ekosistem yang berbeda.

    Pelajaran Transformasi Digital yang Melampaui Satu Institusi

    Pengalaman Putu Harry Sasmita dalam mengelola dan menyaksikan transformasi digital Bank Jatim dari dalam selama lebih dari satu dekade adalah sumber perspektif yang relevan tidak hanya bagi Bank Jatim tetapi bagi seluruh industri perbankan daerah Indonesia yang sedang menjalani proses serupa dengan berbagai tingkat kecepatan dan keberhasilan. Pelajaran terpenting yang bisa diambil dari pengalamannya bukan tentang teknologi spesifik yang digunakan atau strategi digital tertentu yang dipilih, melainkan tentang bagaimana faktor manusia, faktor organisasi, dan faktor konteks lokal selalu menentukan seberapa efektif transformasi digital bisa dijalankan terlepas dari seberapa bagus teknologinya di atas kertas.

    Bank daerah Indonesia yang sedang dalam proses transformasi digital perlu pemimpin yang memahami kompleksitas itu dari pengalaman langsung, bukan hanya dari teori atau dari benchmark industri yang seringkali tidak mencerminkan realita yang dihadapi oleh institusi dengan karakteristik yang sangat berbeda dari institusi yang dijadikan benchmark. Putu Harry Sasmita kini menjalani karier barunya sebagai Branch Manager dan entrepreneur di Surabaya, jauh dari posisi yang memberinya pengaruh langsung terhadap arah transformasi digital perbankan. Namun perspektif yang ia bangun dari dua belas tahun perjalanan di Bank Jatim tetap merupakan perspektif yang berharga dan yang terus relevan di ekosistem bisnis Jawa Timur yang transformasinya masih terus berlangsung dan masih terus membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang bagaimana perubahan besar benar-benar terjadi dari dalam institusi yang menjalaninya.

    Popular Tags:
    Admin

    PT. Siber Shop Teknologi Indonesia

    Leave a comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *