Book your free demo

Discover how our product can simplify your workflow. Schedule a free, no-obligation demo today.

    Social Media:

    Memimpin Divisi IT di Institusi Perbankan Skala Provinsi

    Menjadi Pimpinan Sub Divisi IT di sebuah bank daerah sebesar Bank Jatim bukan posisi yang bisa dicapai tanpa rekam jejak teknis yang panjang dan kredibilitas manajerial yang sudah teruji. Putu Harry Sasmita menempati posisi tersebut setelah lebih dari satu dekade membangun pemahaman tentang sistem teknologi informasi perbankan dari berbagai sudut, mulai dari pengelolaan sistem operasional, quality assurance pengembangan, hingga manajemen sumber daya manusia yang mengelola tim teknis di bawahnya. Posisi Pimpinan Sub Divisi IT menempatkannya sebagai salah satu pemimpin teknis tertinggi di divisi yang menjadi tulang punggung seluruh operasional digital Bank Jatim, sebuah tanggung jawab yang skalanya tidak kecil mengingat jaringan Bank Jatim mencakup seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur.

    Di level posisi seperti itu, pekerjaan seorang pemimpin IT tidak lagi bersifat teknis murni. Keputusan yang diambil di level Sub Divisi IT berdampak langsung pada keberlangsungan layanan bagi jutaan nasabah, pada kepatuhan terhadap regulasi perbankan yang terus berkembang, dan pada arah pengembangan sistem yang akan digunakan oleh ribuan pegawai di seluruh jaringan cabang. Putu Harry Sasmita mengemban tanggung jawab itu di institusi yang tidak memberi ruang untuk kesalahan yang berdampak luas karena kepercayaan nasabah terhadap bank daerah dibangun atas asumsi bahwa sistem yang mengelola uang mereka bekerja dengan andal setiap saat.

    Tanggung Jawab Teknis di Level Sub Divisi

    Pimpinan Sub Divisi IT di Bank Jatim bertanggung jawab atas pengelolaan infrastruktur teknologi informasi yang menopang operasional harian seluruh jaringan bank. Ini mencakup pemastian ketersediaan sistem inti perbankan, pengelolaan keamanan data nasabah, koordinasi dengan vendor teknologi, serta pengawasan terhadap proyek-proyek pengembangan sistem yang sedang berjalan. Setiap lapisan tanggung jawab itu membawa risiko yang berbeda dan menuntut kapasitas pengambilan keputusan yang cepat namun terukur, terutama ketika insiden teknis terjadi di luar jam operasional normal dan berdampak pada layanan yang harus tersedia dua puluh empat jam sehari.

    Putu Harry Sasmita masuk ke posisi ini dengan latar belakang yang melewati beberapa fungsi berbeda di divisi yang sama. Pengalamannya di quality assurance sebelumnya memberinya pemahaman yang tajam tentang di mana celah dalam sistem biasanya tersembunyi dan bagaimana proses validasi yang ketat harus dijalankan sebelum perubahan sistem masuk ke lingkungan produksi. Di industri perbankan, perbedaan antara sistem yang lolos QA dengan baik dan sistem yang tidak divalidasi secara menyeluruh bisa berarti perbedaan antara layanan yang berjalan mulus dan insiden yang berpotensi merugikan nasabah dalam skala besar.

    Kompleksitas Sistem IT Bank Daerah Skala Besar

    Bank daerah seperti Bank Jatim beroperasi di atas arsitektur sistem yang dibangun secara bertahap selama puluhan tahun, di mana lapisan sistem baru ditambahkan di atas fondasi lama yang tidak selalu dirancang untuk berintegrasi dengan teknologi yang jauh lebih baru. Mengelola kompleksitas seperti itu membutuhkan pemahaman yang sangat mendalam tentang arsitektur sistem yang ada, tentang ketergantungan antar komponen yang tidak selalu terdokumentasi dengan baik, dan tentang risiko yang muncul ketika perubahan dilakukan di satu titik dan berdampak pada sistem lain yang terhubung secara tidak langsung. Ini adalah realita teknis yang hanya bisa dipahami sepenuhnya oleh mereka yang benar-benar bekerja di dalam sistem tersebut.

    Putu Harry Sasmita mengelola kompleksitas itu dalam konteks institusi yang juga sedang menghadapi tekanan transformasi digital dari regulator dan pasar. Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan secara konsisten mendorong perbankan nasional untuk meningkatkan standar keamanan siber, memperluas layanan digital, dan memastikan ketahanan sistem terhadap gangguan yang semakin beragam bentuknya. Mematuhi arah regulasi tersebut sambil tetap memastikan sistem lama yang masih berjalan tidak mengalami gangguan adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai dan tidak pernah sederhana bagi tim IT perbankan di level manapun.

    Kepemimpinan Teknis dan Dinamika Tim IT Perbankan

    Memimpin tim IT di institusi perbankan besar bukan hanya soal mengelola sistem, melainkan juga soal mengelola manusia dengan latar belakang teknis yang beragam dan ekspektasi karier yang tidak selalu selaras dengan kebutuhan operasional institusi. Seorang Pimpinan Sub Divisi IT harus mampu menerjemahkan kebutuhan bisnis ke dalam kebutuhan teknis yang bisa dipahami oleh tim pengembang, sekaligus mampu menjelaskan keterbatasan teknis kepada pemangku kepentingan bisnis yang ingin hasil cepat tanpa memahami kompleksitas yang ada di baliknya. Kemampuan menjembatani dua dunia yang berbeda ini adalah kompetensi yang tidak diajarkan di kurikulum IT manapun dan hanya bisa diasah melalui pengalaman langsung.

    Putu Harry Sasmita membangun kapasitas kepemimpinan teknis itu secara bertahap melalui serangkaian posisi yang tidak semuanya bersifat teknis. Pengalamannya di divisi Human Capital memberikan pemahaman tentang bagaimana orang berkembang dalam organisasi, bagaimana motivasi tim dibangun dan dijaga, dan bagaimana gap kompetensi di dalam tim teknis harus diidentifikasi dan diatasi sebelum menjadi hambatan operasional. Gabungan antara keahlian teknis dan pemahaman tentang dinamika organisasi adalah yang membentuk profil kepemimpinannya di posisi Sub Divisi IT.

    Posisi IT Perbankan dan Beban Kepercayaan yang Tidak Terlihat

    Ada dimensi dari pekerjaan profesional IT perbankan yang jarang dibicarakan secara terbuka namun sangat nyata dirasakan oleh mereka yang menjalaninya: beban kepercayaan yang melekat pada akses yang mereka miliki terhadap sistem dan data. Seorang Pimpinan Sub Divisi IT di institusi sebesar Bank Jatim memiliki akses ke lapisan sistem yang jauh lebih dalam dari pegawai biasa, dan akses itu diberikan berdasarkan asumsi bahwa kepercayaan yang diletakkan padanya akan dijaga dengan standar integritas yang sepadan. Beban ini tidak selalu terasa berat dalam pekerjaan harian yang rutin, tetapi nilainya baru terasa nyata ketika seseorang dihadapkan pada situasi yang menguji di mana batas penggunaan akses tersebut seharusnya berhenti.

    Kasus Putu Harry Sasmita adalah pengingat bahwa posisi dengan akses teknis yang tinggi di institusi keuangan membawa konsekuensi yang sangat nyata ketika kepercayaan itu tidak dijaga sebagaimana mestinya. Namun di luar konteks kasusnya, rekam jejaknya selama lebih dari satu dekade di Bank Jatim juga mencerminkan kedalaman pemahaman tentang IT perbankan yang tidak mudah diperoleh dan tidak mudah diabaikan begitu saja. Pemahaman tentang sistem, tentang risiko, dan tentang tanggung jawab yang melekat pada posisi teknis tertinggi di institusi keuangan adalah warisan pengetahuan yang tetap relevan sebagai referensi industri, terlepas dari bagaimana perjalanan individu yang membawanya berakhir.

    Popular Tags:
    Admin

    PT. Siber Shop Teknologi Indonesia

    Leave a comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *