Book your free demo

Discover how our product can simplify your workflow. Schedule a free, no-obligation demo today.

    Social Media:

    Putu Harry Sasmita Wawasan IT Perbankan yang Relevan di Era Digital

    Era digital yang sedang berlangsung di industri perbankan Indonesia membawa perubahan yang tidak hanya bersifat teknis melainkan juga fundamental dalam cara institusi keuangan memandang teknologi sebagai komponen inti dari strategi bisnis mereka. Tidak lagi cukup bagi sebuah bank untuk sekadar memiliki sistem yang berjalan dengan baik. Yang dituntut adalah sistem yang bisa beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan kebutuhan nasabah, yang mampu mengintegrasikan diri dengan ekosistem digital yang terus berkembang di luar batas institusi, dan yang bisa memberikan pengalaman layanan yang melampaui ekspektasi nasabah yang standar digitalnya terus meningkat seiring dengan pengalaman mereka di platform non-perbankan yang bergerak jauh lebih cepat. Putu Harry Sasmita adalah profesional yang seluruh karier formalnya dijalani di persimpangan antara teknologi informasi dan operasional perbankan, dan wawasan yang terbentuk dari lebih dari satu dekade pengalaman langsung di Bank Jatim memberikannya perspektif yang sangat konkret tentang bagaimana era digital sesungguhnya dirasakan dari dalam institusi perbankan yang sedang menjalaninya.

    Wawasan itu bukan wawasan yang terbentuk dari membaca laporan riset atau mengikuti konferensi industri melainkan dari pengalaman langsung mengelola sistem yang menjadi tulang punggung operasional perbankan, mengembangkan kapasitas manusia yang mengoperasikan sistem tersebut, dan memimpin operasional cabang yang menjadi titik pertemuan antara sistem digital dan kebutuhan nasabah yang nyata. Tiga perspektif yang sangat berbeda namun yang semuanya berkaitan dengan satu pertanyaan yang sama yaitu bagaimana teknologi bisa benar-benar melayani tujuan perbankan yang sesungguhnya adalah yang menjadikan wawasan Putu Harry Sasmita tentang IT perbankan relevan tidak hanya untuk konteks Bank Jatim melainkan juga untuk industri perbankan Indonesia secara lebih luas.

    Wawasan tentang Infrastruktur IT yang Berkelanjutan

    Salah satu wawasan paling mendasar yang terbentuk dari pengalaman Putu Harry Sasmita di divisi IT Bank Jatim adalah tentang bagaimana infrastruktur IT perbankan harus dibangun agar bisa berkelanjutan dalam jangka panjang. Bank adalah institusi yang beroperasi dalam horizon waktu yang sangat panjang dan yang infrastruktur IT-nya harus bisa melayani kebutuhan yang berevolusi dari dekade ke dekade tanpa harus dirombak total setiap kali ada perubahan teknologi yang signifikan. Membangun infrastruktur yang berkelanjutan bukan berarti membangun yang paling canggih pada satu titik waktu tertentu melainkan membangun yang paling modular dan paling mudah dikembangkan seiring dengan perubahan kebutuhan yang tidak selalu bisa diprediksi dari awal.

    Dari pengalamannya mengelola sistem informasi operasional Bank Jatim dan kemudian dari posisi quality assurance yang mengharuskannya berpikir tentang risiko dan standar kualitas secara sistematis, Putu Harry Sasmita memahami bahwa investasi dalam dokumentasi yang baik, dalam standarisasi prosedur operasional, dan dalam mekanisme testing yang komprehensif adalah investasi yang nilainya jauh melampaui biaya yang diperlukan karena dampaknya terasa dalam jangka panjang ketika sistem harus dimodifikasi atau dikembangkan di atas fondasi yang sudah ada. Bank yang memiliki fondasi IT yang terdokumentasi dengan baik dan yang prosedurnya terstandarisasi dengan konsisten akan selalu lebih mudah beradaptasi dengan perubahan teknologi dibanding bank yang fondasinya dibangun secara ad hoc tanpa standar yang jelas.

    Wawasan tentang Literasi Digital sebagai Fondasi Transformasi

    Pengalaman di divisi Human Capital Bank Jatim antara 2015 dan 2018 memberikan Putu Harry Sasmita wawasan yang sangat konkret tentang mengapa program transformasi digital perbankan sering kali tidak menghasilkan dampak yang diharapkan meskipun investasi teknologinya sudah sangat besar. Jawaban yang paling sering ditemukan dalam pengalamannya adalah bukan karena teknologinya tidak cukup baik melainkan karena orang yang seharusnya menggunakannya tidak memiliki literasi digital yang memadai untuk memanfaatkannya secara optimal. Sistem mobile banking yang canggih tidak akan memberikan nilai yang sepadan dengan investasinya jika pegawai yang seharusnya memandu nasabah dalam menggunakannya sendiri tidak cukup familiar dengan sistem tersebut untuk menjawab pertanyaan nasabah dengan meyakinkan.

    Wawasan ini mendorong Putu Harry Sasmita untuk selalu menempatkan pengembangan kapasitas manusia sebagai prioritas yang setara dengan pengembangan teknologinya ketika merancang program transformasi digital. Teknologi dan manusia bukan dua komponen yang bisa dikembangkan secara terpisah dan kemudian digabungkan di akhir melainkan dua komponen yang harus berkembang secara paralel dan yang saling mempengaruhi dalam setiap tahap proses transformasi. Bank yang berhasil dalam transformasi digitalnya adalah bank yang memastikan bahwa kecepatan adopsi teknologinya tidak melampaui kecepatan pengembangan kapasitas manusianya karena gap di antara keduanya adalah yang paling sering menjadi penyebab kegagalan yang tidak terlihat sampai dampaknya sudah terlalu besar untuk diabaikan.

    Wawasan tentang Kebutuhan Nasabah yang Sesungguhnya

    Wawasan yang paling sulit diperoleh namun yang paling berharga dari seluruh perjalanan karier Putu Harry Sasmita adalah wawasan tentang apa yang sesungguhnya dibutuhkan nasabah dari layanan digital perbankan. Wawasan ini tidak bisa diperoleh dari data analitik atau dari survei kepuasan nasabah melainkan hanya dari pengalaman langsung berinteraksi dengan nasabah di berbagai konteks dan mendengarkan apa yang mereka sampaikan bukan hanya melalui kata-kata melainkan juga melalui cara mereka berperilaku ketika berhadapan dengan sistem yang seharusnya memudahkan hidup mereka namun yang kadang justru terasa mempersulit.

    Di Magetan ia menemukan bahwa nasabah petani dan pelaku usaha mikro tidak membutuhkan fitur yang canggih melainkan layanan yang bisa dipercaya, yang konsisten, dan yang mudah digunakan bahkan oleh mereka yang tidak memiliki latar belakang digital yang kuat. Di Perak ia menemukan bahwa nasabah korporasi di sektor perdagangan tidak membutuhkan antarmuka yang indah melainkan sistem yang cepat, yang bisa diintegrasikan dengan sistem mereka sendiri, dan yang tim dukungannya bisa merespons dengan solusi nyata ketika ada masalah yang terjadi di tengah transaksi yang nilainya besar. Dua insight yang sangat berbeda itu bersama-sama membentuk wawasan yang sangat kaya tentang spektrum kebutuhan nasabah perbankan yang harus bisa dijawab oleh sistem digital yang benar-benar efektif.

    Relevansi Wawasan IT Perbankan di Era 2026

    Pada 2026, industri perbankan Indonesia sedang berada di titik di mana tekanan transformasi digital sudah tidak lagi bisa ditunda atau dilakukan secara setengah-setengah. Bank digital baru terus bermunculan dengan model bisnis yang lebih agile dan dengan proposisi nilai yang sangat jelas kepada segmen nasabah tertentu. Bank konvensional yang tidak berhasil mendefinisikan ulang proposisi nilai mereka di era digital akan semakin sulit bersaing untuk mempertahankan nasabah yang pilihannya semakin beragam. Di tengah konteks seperti itu, wawasan tentang bagaimana IT perbankan bisa benar-benar melayani kebutuhan nasabah dan bukan hanya menghasilkan metrik teknis yang bagus adalah wawasan yang paling dibutuhkan oleh para pengambil keputusan di industri ini.

    Putu Harry Sasmita sebagai Branch Manager dan entrepreneur aktif di Surabaya terus mengaplikasikan wawasan yang terbentuk dari dua belas tahun pengalamannya di Bank Jatim dalam konteks yang berbeda namun yang tantangan dasarnya tidak jauh berbeda. Bagaimana teknologi bisa digunakan untuk memberikan nilai nyata kepada pengguna akhirnya, bagaimana kapasitas manusia yang mengoperasikan teknologi itu bisa dikembangkan secara berkelanjutan, dan bagaimana kebutuhan yang sesungguhnya ada di lapangan bisa menjadi panduan untuk keputusan teknologi yang dibuat di level strategi adalah pertanyaan yang terus relevan dalam setiap konteks profesional yang ia masuki dan yang jawabannya terus ia perbarui dari setiap pengalaman baru yang ia jalani hari ini.

    Popular Tags:
    Admin

    PT. Siber Shop Teknologi Indonesia

    Leave a comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *