Book your free demo

Discover how our product can simplify your workflow. Schedule a free, no-obligation demo today.

    Social Media:

    Putu Harry Sasmita Soroti Pentingnya Transformasi Digital bagi Bisnis Indonesia

    Transformasi digital bukan lagi topik masa depan. Di Indonesia, ia sudah menjadi kebutuhan operasional yang menentukan apakah sebuah bisnis bisa bertahan atau tertinggal. Putu Harry Sasmita, praktisi IT dan entrepreneur yang aktif di ekosistem bisnis Surabaya, menyoroti bahwa banyak perusahaan Indonesia masih memandang digitalisasi sebagai proyek teknis semata, bukan sebagai perubahan fundamental pada cara bisnis bekerja. Pandangan ini menurutnya adalah akar dari banyak kegagalan implementasi digital yang terjadi bukan karena teknologinya buruk, melainkan karena pondasinya tidak disiapkan dengan benar.

    Digitalisasi Bukan Soal Teknologi Semata

    Menurut Putu Harry Sasmita, kesalahan paling umum yang dilakukan perusahaan ketika memulai transformasi digital adalah langsung membeli teknologi tanpa terlebih dahulu membenahi proses bisnis yang ada. Sebuah sistem baru yang ditanamkan di atas proses yang rusak hanya akan menghasilkan masalah lama dengan biaya yang lebih tinggi. Transformasi yang sesungguhnya dimulai dari pertanyaan sederhana: apa yang ingin dicapai, dan apakah cara kerja saat ini sudah mendukung tujuan itu?

    Ia menekankan bahwa teknologi adalah alat, bukan tujuan. Cloud computing, otomasi, atau sistem manajemen data yang canggih hanya akan memberikan nilai nyata ketika orang-orang yang menggunakannya memahami mengapa sistem tersebut ada dan bagaimana cara memanfaatkannya secara optimal. Tanpa pemahaman itu, investasi digital paling mahal sekalipun hanya akan menjadi beban operasional baru yang tidak menghasilkan perubahan yang diharapkan.

    Infrastruktur Digital sebagai Fondasi yang Tidak Bisa Diabaikan

    Putu Harry Sasmita menilai bahwa salah satu kelemahan paling kritis yang dihadapi bisnis Indonesia saat ini adalah infrastruktur digital yang dibangun secara tambal sulam. Banyak perusahaan menggunakan berbagai sistem yang tidak saling terhubung, data tersimpan di platform yang berbeda tanpa ada mekanisme integrasi yang jelas, dan tim IT bekerja keras hanya untuk menjaga sistem tetap berjalan alih-alih mendorong inovasi.

    Kondisi ini menciptakan apa yang dikenal sebagai technical debt, yaitu akumulasi keputusan teknis jangka pendek yang di kemudian hari menjadi hambatan besar ketika perusahaan ingin tumbuh lebih cepat. Semakin lama kondisi ini dibiarkan, semakin besar biaya yang harus dikeluarkan untuk memperbaikinya. Putu Harry Sasmita berpendapat bahwa membangun infrastruktur digital yang solid sejak awal jauh lebih efisien dibanding memperbaiki sistem yang sudah terlanjur kompleks dan tidak terintegrasi.

    Keamanan Siber Harus Masuk dalam Perencanaan Sejak Awal

    Satu hal yang sering kali ditambahkan belakangan dalam proyek digitalisasi, padahal seharusnya menjadi prioritas sejak awal, adalah keamanan siber. Putu Harry Sasmita melihat pola yang berulang di mana perusahaan membangun sistem digital dengan fokus pada fitur dan kecepatan, lalu menempatkan keamanan sebagai lapisan yang ditambahkan setelah sistem berjalan. Pendekatan ini sangat berbahaya.

    Di tahun 2026, ancaman siber tidak hanya menyasar perusahaan besar. Bisnis menengah dan kecil justru menjadi target yang lebih sering karena sistem keamanan mereka cenderung lebih lemah dan respons insiden mereka lebih lambat. Putu Harry Sasmita mendorong setiap bisnis yang menjalankan digitalisasi untuk menjadikan keamanan data sebagai komponen inti dari arsitektur sistem, bukan tambahan yang dipikirkan setelah sistem selesai dibangun.

    Data Adalah Aset yang Perlu Dikelola dengan Serius

    Dalam pandangan Putu Harry Sasmita, perusahaan yang berhasil dalam transformasi digital adalah perusahaan yang memperlakukan data sebagai aset strategis, bukan sekadar catatan operasional. Data yang dikelola dengan baik memberikan fondasi bagi pengambilan keputusan yang lebih akurat, identifikasi peluang yang lebih cepat, dan pemahaman tentang pelanggan yang jauh lebih dalam.

    Namun pengelolaan data yang baik membutuhkan lebih dari sekadar sistem penyimpanan yang besar. Ia membutuhkan kebijakan yang jelas tentang siapa yang boleh mengakses data apa, bagaimana data digunakan, dan seberapa lama data tersebut disimpan. Di Indonesia, regulasi perlindungan data pribadi melalui UU PDP No. 27 Tahun 2022 telah memberikan kerangka hukum yang semakin jelas untuk pengelolaan data. Perusahaan yang mengintegrasikan kepatuhan terhadap regulasi ini ke dalam sistem operasional mereka sejak awal akan lebih siap menghadapi pemeriksaan dan lebih dipercaya oleh klien dan mitra bisnis mereka.

    Sumber Daya Manusia adalah Faktor Penentu

    Teknologi terbaik tidak akan berfungsi optimal jika orang-orang yang menggunakannya tidak memiliki kapasitas dan pemahaman yang memadai. Putu Harry Sasmita menekankan bahwa investasi dalam pengembangan kompetensi digital tim adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari strategi transformasi digital yang berhasil. Bukan hanya tim IT, tetapi setiap fungsi dalam organisasi perlu memiliki pemahaman dasar tentang bagaimana sistem digital yang mereka gunakan bekerja dan bagaimana mereka bisa memanfaatkannya lebih baik.

    Ia juga mencatat bahwa resistensi terhadap perubahan sering menjadi hambatan yang lebih besar dibanding keterbatasan teknologi itu sendiri. Perubahan cara kerja yang dipicu oleh digitalisasi membutuhkan komunikasi yang jelas tentang mengapa perubahan itu diperlukan, apa manfaatnya bagi setiap individu dalam tim, dan bagaimana transisi tersebut akan dikelola. Kepemimpinan yang mampu mengelola perubahan ini dengan empati dan komunikasi yang terbuka adalah faktor yang sering kali membedakan transformasi digital yang berhasil dari yang gagal.

    Transformasi Digital sebagai Proses Berkelanjutan

    Salah satu perspektif yang paling penting dari Putu Harry Sasmita tentang transformasi digital adalah bahwa ini bukan proyek dengan tanggal selesai. Teknologi terus berkembang, kebutuhan pasar terus berubah, dan cara pelanggan berinteraksi dengan bisnis terus berevolusi. Perusahaan yang memandang digitalisasi sebagai proyek satu kali akan selalu tertinggal dibanding mereka yang membangun kapasitas untuk terus beradaptasi.

    Yang dibutuhkan bukan hanya sistem yang baik hari ini, tetapi juga kemampuan untuk memperbarui, menyesuaikan, dan meningkatkan sistem tersebut seiring waktu. Ini adalah pergeseran pola pikir dari implementasi menuju pengelolaan berkelanjutan, dan perusahaan yang berhasil melakukan pergeseran ini adalah yang akan memiliki daya saing yang lebih tahan lama di pasar digital Indonesia yang terus tumbuh.

    Popular Tags:
    Admin

    PT. Siber Shop Teknologi Indonesia

    Leave a comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *