Book your free demo

Discover how our product can simplify your workflow. Schedule a free, no-obligation demo today.

    Social Media:

    Putu Harry Sasmita dan Masa Depan Perbankan Digital di Jawa Timur

    Jawa Timur adalah provinsi dengan ekosistem ekonomi yang jauh lebih kompleks dari yang terlihat di permukaan. Basis industrinya kuat di koridor Surabaya-Sidoarjo-Gresik. Sektor pertanian dan perkebunannya masih menjadi tulang punggung ekonomi di puluhan kabupaten. Jaringan perdagangannya terhubung ke pelabuhan terbesar kedua di Indonesia. Dan di tengah semua itu, perbankan digital sedang tumbuh dengan kecepatan yang tidak merata di berbagai segmen dan wilayah. Putu Harry Sasmita menghabiskan lebih dari satu dekade berkarier di Bank Jatim, institusi yang melayani seluruh keberagaman itu dalam satu jaringan yang sama. Perspektifnya tentang masa depan perbankan digital di Jawa Timur bukan perspektif yang lahir dari laporan riset pasar. Itu perspektif yang terbentuk dari pengalaman langsung mengelola sistem, mengembangkan manusia, dan memimpin operasional cabang di berbagai konteks yang sangat berbeda dalam satu provinsi yang sama.

    Bank digital baru yang bermunculan dalam beberapa tahun terakhir hampir semuanya dirancang dengan asumsi pengguna perkotaan yang melek digital, memiliki smartphone yang layak, dan terhubung ke internet yang stabil. Asumsi itu valid untuk segmen tertentu di Surabaya, Malang, atau kota-kota besar lainnya. Tapi Jawa Timur bukan hanya kota-kota besar itu. Jawa Timur adalah juga Bondowoso, Situbondo, Pacitan, dan ratusan kecamatan lain yang infrastruktur digitalnya masih jauh dari memadai dan yang nasabahnya memiliki pola kebutuhan yang sangat berbeda dari yang biasa diasumsikan oleh desainer produk yang bekerja dari kantor di Jakarta.

    Tiga Tantangan yang Tidak Terlihat dari Pusat

    Perbankan digital di Jawa Timur menghadapi tiga tantangan yang hampir tidak pernah muncul dalam diskusi tentang fintech dan transformasi digital yang didominasi perspektif ibu kota. Tantangan pertama adalah infrastruktur yang tidak merata. Konektivitas internet di kawasan perkotaan Jawa Timur sudah cukup baik untuk mendukung layanan perbankan digital yang modern. Tapi di kabupaten-kabupaten yang justru menjadi basis nasabah terbesar bank daerah seperti Bank Jatim, konektivitas masih menjadi variabel yang tidak bisa dianggap given dalam desain produk digital apapun.

    Tantangan kedua adalah literasi digital yang juga tidak merata. Bukan hanya di sisi nasabah, tapi juga di sisi pegawai bank yang menjadi ujung tombak adopsi layanan digital di garis depan. Program pelatihan yang dirancang di kantor pusat untuk diimplementasikan di seluruh jaringan cabang tidak selalu mempertimbangkan perbedaan kapasitas dan konteks yang sangat signifikan antara cabang di Surabaya dan cabang di kabupaten terpencil. Tantangan ketiga adalah kepercayaan. Di banyak wilayah yang dilayani bank daerah, kepercayaan terhadap institusi keuangan masih dibangun melalui hubungan personal yang terbentuk dari interaksi tatap muka yang berulang, bukan dari antarmuka aplikasi yang bagus.

    Peluang yang Paling Nyata

    Di balik tantangan-tantangan itu ada peluang yang sangat konkret bagi mereka yang cukup memahami ekosistem untuk melihatnya. Segmen UMKM di Jawa Timur adalah salah satu yang terbesar dan paling aktif di Indonesia, tapi tingkat akses mereka terhadap layanan keuangan formal masih jauh di bawah potensinya. Layanan perbankan digital yang dirancang khusus untuk kebutuhan UMKM lokal, yang memahami pola cash flow yang mengikuti siklus panen atau siklus perdagangan lokal, dan yang bisa dioperasikan dengan mudah bahkan oleh pengguna yang tingkat literasi digitalnya rendah, adalah layanan yang pasarnya sangat besar dan yang kompetitornya masih sangat sedikit.

    Putu Harry Sasmita dalam pengalamannya memimpin Cabang Magetan melihat langsung betapa besarnya gap antara kebutuhan yang ada dan layanan yang tersedia. Petani yang butuh kredit modal kerja sebelum musim tanam, pedagang pasar yang butuh fasilitas transfer yang cepat dan murah, pelaku usaha mikro yang butuh pencatatan keuangan sederhana yang terintegrasi dengan rekening mereka — semua itu adalah kebutuhan nyata yang solusinya belum sepenuhnya tersedia dalam format yang benar-benar bisa diakses dan digunakan oleh mereka yang membutuhkannya.

    Putu Harry Sasmita dan Pandangan tentang Arah yang Tepat

    Masa depan perbankan digital di Jawa Timur bukan tentang siapa yang punya teknologi paling canggih. Itu tentang siapa yang paling memahami kebutuhan spesifik dari segmen yang paling besar namun paling underserved di provinsi ini dan yang bisa menghadirkan solusi yang benar-benar relevan untuk mereka. Bank yang menang bukan yang paling inovatif secara teknis. Bank yang menang adalah yang paling berhasil menjembatani gap antara kapabilitas teknologi yang ada dan kebutuhan aktual nasabah yang dilayaninya.

    Putu Harry Sasmita kini aktif sebagai Branch Manager dan entrepreneur di Surabaya, membawa perspektif yang terbentuk dari dua belas tahun di Bank Jatim ke dalam cara ia melihat peluang dan tantangan di ekosistem bisnis Jawa Timur yang terus berkembang. Perspektif tentang masa depan perbankan digital yang lahir dari pengalaman operasional langsung di berbagai konteks Jawa Timur adalah perspektif yang tidak mudah didapat dan yang relevansinya terus terbukti dalam setiap diskusi tentang ke mana industri ini seharusnya bergerak.

    Popular Tags:
    Admin

    PT. Siber Shop Teknologi Indonesia

    Leave a comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *