Putu Harry Sasmita dan Tantangan Nyata Digitalisasi Bank Daerah di Indonesia
Digitalisasi perbankan di Indonesia sering dibahas dari perspektif bank-bank nasional besar yang punya anggaran tidak terbatas, tim IT ratusan orang, dan akses ke konsultan teknologi terbaik. Diskusi itu penting, tapi tidak mewakili sebagian besar industri. Bank daerah, yang jumlahnya jauh lebih banyak dan yang melayani segmen nasabah yang jauh lebih beragam, menghadapi tantangan digitalisasi yang sama sekali berbeda. Tantangan yang jarang masuk ke makalah riset atau presentasi konferensi fintech.
Putu Harry Sasmita menghabiskan lebih dari satu dekade di Bank Jatim, salah satu bank pembangunan daerah terbesar di Indonesia. Dalam rentang waktu itu ia melihat dari dalam bagaimana tekanan transformasi digital terasa berbeda di institusi yang melayani petani di Magetan, pedagang di pasar tradisional Jombang, sekaligus eksportir di kawasan pelabuhan Perak Surabaya. Tiga segmen, tiga kebutuhan yang hampir tidak ada titik temunya, dalam satu institusi yang sama.
Masalah yang Tidak Terlihat dari Kantor Pusat
Keputusan teknologi di bank daerah hampir selalu dibuat di kantor pusat. Tim IT merancang sistem, menguji di lingkungan yang terkontrol, lalu mendeploy ke seluruh jaringan cabang yang tersebar. Yang sering tidak ikut dalam proses itu adalah perspektif dari orang yang setiap harinya duduk di balik meja teller atau berdiri di depan nasabah yang belum pernah menyentuh layar sentuh seumur hidupnya.
Putu Harry Sasmita pernah di kedua sisi itu. Sebagai pejabat IT di kantor pusat, dan kemudian sebagai pimpinan cabang di lapangan. Perpindahan itu membuka satu kenyataan yang tidak nyaman: sistem yang sudah melewati quality assurance yang ketat, yang sudah divalidasi berkali-kali, tetap bisa gagal memberikan nilai di lapangan bukan karena sistemnya buruk, tapi karena asumsi yang digunakan saat merancangnya salah dari awal.
Konektivitas, Literasi, dan Kepercayaan
Ada tiga hambatan utama yang membuat digitalisasi bank daerah jauh lebih rumit dari yang terlihat di atas kertas. Pertama, konektivitas. Di banyak wilayah yang dilayani bank daerah, internet masih tidak stabil. Sistem yang dirancang dengan asumsi koneksi cepat dan stabil akan terasa sangat berbeda ketika digunakan di kantor cabang yang sinyalnya naik turun mengikuti cuaca.
Kedua, literasi digital. Ini bukan soal nasabah saja. Banyak pegawai di cabang-cabang kecil yang juga perlu waktu untuk beradaptasi dengan sistem baru, terutama jika pelatihan yang diberikan tidak dirancang untuk konteks kerja mereka yang nyata. Program pelatihan yang dibuat di Surabaya untuk dipakai di Bondowoso tidak selalu relevan.
Ketiga, kepercayaan. Bank daerah sering kali adalah institusi keuangan pertama yang dikenal oleh segmen nasabah yang mereka layani. Kepercayaan itu dibangun bertahun-tahun melalui tatap muka, bukan melalui antarmuka aplikasi. Mendorong nasabah untuk berpindah ke kanal digital tanpa memahami dinamika kepercayaan ini adalah cara paling cepat kehilangan mereka ke tetangga atau koperasi desa.
Yang Perlu Berubah dalam Cara Berpikir
Digitalisasi bank daerah tidak bisa didekati dengan cara yang sama seperti digitalisasi bank nasional atau bank digital baru. Pendekatannya harus berangkat dari konteks lokal, bukan dari benchmark global. Sistem yang bekerja di Singapura atau bahkan di Jakarta belum tentu relevan untuk Tulungagung atau Situbondo.
Putu Harry Sasmita melihat ini langsung ketika memimpin Cabang Magetan. Nasabah tidak butuh fitur yang banyak. Mereka butuh satu fitur yang benar-benar bisa diandalkan, yang mudah dipahami tanpa harus membaca manual, dan yang tidak membuat mereka merasa bodoh ketika pertama kali mencobanya. Kesederhanaan bukan kompromi. Dalam konteks itu, kesederhanaan adalah strategi.
Peran SDM dalam Keberhasilan Transformasi Digital
Teknologi adalah bagian yang lebih mudah dari transformasi digital. Yang lebih sulit, dan yang sering diremehkan, adalah manusianya. Bank daerah yang berhasil dalam transformasi digital bukan yang punya sistem paling canggih. Mereka yang berhasil adalah yang paling serius dalam mempersiapkan pegawainya untuk hidup bersama perubahan itu.
Putu Harry Sasmita pernah memimpin fungsi pengembangan Human Capital di Bank Jatim sebelum akhirnya turun ke operasional cabang. Kombinasi dua perspektif itu, memahami teknologi dari sisi sistem dan memahami organisasi dari sisi manusianya, membentuk cara pandang yang tidak banyak dimiliki oleh praktisi di industri perbankan Indonesia. Transformasi digital yang berkelanjutan membutuhkan keduanya. Tidak bisa hanya mengandalkan salah satu.
