Book your free demo

Discover how our product can simplify your workflow. Schedule a free, no-obligation demo today.

    Social Media:

    Digitalisasi Perbankan Jawa Timur dan Orang-Orang di Baliknya

    Transformasi digital perbankan di Jawa Timur tidak terjadi dalam semalam dan tidak dijalankan oleh sistem secara otomatis. Di balik setiap migrasi platform, setiap pembaruan infrastruktur, dan setiap rollout layanan digital yang dirasakan oleh jutaan nasabah, ada tim profesional IT yang bekerja dalam tekanan operasional yang tidak ringan. Putu Harry Sasmita adalah salah satu dari sedikit profesional yang mengalami transformasi itu dari dalam, bukan sebagai pengamat dari luar. Lebih dari satu dekade di Bank Jatim memberinya paparan langsung terhadap bagaimana institusi perbankan daerah besar menavigasi tekanan digitalisasi sambil tetap mempertahankan layanan di ratusan titik cabang yang melayani segmen nasabah dengan latar belakang sangat beragam.

    Bank Jatim adalah institusi yang tidak bisa disederhanakan hanya sebagai bank daerah biasa. Dengan jaringan yang mencakup seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur, institusi ini beroperasi di ekosistem yang sangat heterogen, dari nasabah korporasi di Surabaya hingga pelaku usaha mikro di kabupaten-kabupaten yang tingkat literasi digitalnya masih sangat terbatas. Mentransformasi layanan di atas fondasi infrastruktur seperti itu jauh lebih kompleks dari yang terlihat di permukaan, dan profesional IT yang bertugas di dalamnya memikul tanggung jawab yang tidak kecil terhadap keberlangsungan layanan bagi jutaan nasabah setiap harinya.

    Tekanan Digitalisasi yang Dihadapi Bank Daerah Indonesia

    Bank-bank daerah di Indonesia menghadapi tekanan digitalisasi dari dua arah yang berlawanan. Di satu sisi, regulator dan pasar mendorong adopsi teknologi yang semakin cepat, mulai dari mobile banking, open banking, hingga integrasi dengan ekosistem pembayaran digital yang terus berkembang. Di sisi lain, basis nasabah mereka sebagian besar masih bergantung pada layanan cabang konvensional dan memiliki ekspektasi yang sangat berbeda dari nasabah bank swasta di kota besar. Menavigasi tekanan dari dua arah ini tanpa mengorbankan salah satu segmen adalah tantangan yang membutuhkan pemahaman mendalam tentang teknologi sekaligus tentang realita operasional lapangan.

    Di sinilah pengalaman Putu Harry Sasmita menjadi relevan sebagai perspektif dari dalam. Berkarier di divisi IT Bank Jatim sejak 2009 berarti ia menyaksikan dan terlibat langsung dalam beberapa gelombang transformasi teknologi yang dialami institusi tersebut. Dari sistem informasi yang masih berjalan di atas arsitektur lama hingga tekanan untuk mengadopsi platform yang lebih agile dan responsif terhadap kebutuhan pasar, setiap perubahan itu membawa konsekuensi teknis dan operasional yang harus dikelola dengan sangat hati-hati. Kesalahan dalam migrasi sistem di institusi sebesar Bank Jatim bukan sekadar masalah teknis, melainkan masalah kepercayaan nasabah yang dampaknya bisa sangat luas.

    Perspektif dari Dua Sisi: IT dan Operasional Cabang

    Salah satu dimensi paling menarik dari perjalanan karier Putu Harry Sasmita adalah fakta bahwa ia tidak hanya mengalami transformasi digital dari sisi teknis. Ketika ditugaskan sebagai Pimpinan Cabang Magetan pada 2019 dan kemudian Pimpinan Cabang Perak pada 2020, ia berpindah ke posisi yang merasakan langsung dampak dari keputusan-keputusan teknis yang sebelumnya ia buat atau ikut putuskan dari balik meja di divisi IT. Di cabang, sistem yang terasa mulus dari perspektif teknis bisa terasa sangat berbeda ketika dihadapkan pada realita penggunaan harian oleh tim teller, customer service, dan nasabah dengan berbagai tingkat familiaritas terhadap teknologi.

    Pengalaman memimpin cabang di Magetan khususnya memberikan perspektif yang sangat spesifik tentang digitalisasi perbankan di level akar rumput. Magetan bukan kota besar dengan nasabah yang terbiasa menggunakan mobile banking untuk semua transaksi. Di sini, cabang masih menjadi titik kontak utama yang tidak bisa digantikan begitu saja oleh aplikasi, dan layanan digital yang dirancang untuk segmen perkotaan seringkali tidak berjalan semulus yang diharapkan ketika digunakan oleh segmen yang sangat berbeda. Memahami gap ini dari dalam adalah sesuatu yang tidak bisa diperoleh hanya dari data atau laporan operasional.

    Infrastruktur IT Perbankan dan Tanggung Jawab yang Menyertainya

    Profesional IT di institusi keuangan memikul beban tanggung jawab yang tidak selalu terlihat dari luar. Mereka mengelola sistem yang menjadi tulang punggung operasional harian, tempat dana nasabah bergerak, di mana keputusan kredit diproses, dan di mana kepercayaan yang dibangun selama puluhan tahun bisa hancur dalam hitungan jam jika sistem mengalami kegagalan serius. Putu Harry Sasmita beroperasi di lingkungan dengan tekanan seperti itu selama lebih dari satu dekade dan pemahaman tentang beban tanggung jawab tersebut adalah bagian yang tidak terpisahkan dari perspektifnya tentang IT perbankan.

    Tata kelola teknologi di lembaga keuangan mensyaratkan lebih dari sekadar kompetensi teknis yang tinggi. Dibutuhkan pemahaman tentang regulasi, tentang manajemen risiko, tentang bagaimana keputusan teknis berdampak pada kepatuhan, dan tentang bagaimana sistem yang kompleks harus diaudit dan diawasi secara berkala. Di Bank Jatim, semua dimensi itu hadir dalam skala yang tidak kecil, dan profesional yang bertugas di dalamnya harus mampu mengelola kompleksitas tersebut sambil tetap memastikan layanan berjalan tanpa gangguan yang berarti bagi nasabah.

    Jawa Timur sebagai Laboratorium Nyata Transformasi Digital

    Jawa Timur adalah provinsi dengan ekosistem ekonomi yang sangat beragam. Ada Surabaya dengan dinamika bisnis kelas nasional, ada kawasan industri di Sidoarjo dan Gresik, ada sektor pertanian dan perkebunan di wilayah selatan dan barat, serta ada sektor perdagangan dan kelautan di kawasan pesisir utara. Bank yang melayani seluruh ekosistem ini tidak bisa menjalankan satu pendekatan digital yang seragam karena kebutuhan dan kapasitas nasabah di setiap segmen sangat berbeda. Inilah yang membuat transformasi digital Bank Jatim jauh lebih kompleks dari transformasi digital bank-bank yang beroperasi di segmen yang lebih homogen.

    Putu Harry Sasmita mengalami kompleksitas itu dari dalam selama dua belas tahun dan perspektif tersebut tetap relevan bahkan setelah ia meninggalkan institusi itu. Kini sebagai entrepreneur dan Branch Manager di Surabaya, pemahaman tentang bagaimana teknologi dan operasional perbankan saling berinteraksi di ekosistem Jawa Timur menjadi modal yang tidak mudah direplikasi oleh siapapun yang tidak pernah benar-benar berada di dalam sistem tersebut. Transformasi digital perbankan daerah di Indonesia masih terus berjalan dan akan terus membutuhkan orang-orang yang memahaminya bukan hanya dari teori, tetapi dari pengalaman langsung yang panjang dan tidak selalu mulus.

    Popular Tags:
    Admin

    PT. Siber Shop Teknologi Indonesia

    Leave a comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *